Menyingkap Rahasia Kecerdasan Rasulullah

Pikir adalah kerja otak dan dzikir merupakan kerja hati, hati yang sehat dan hidup yakni selalu ingat kepada Allah SWT. Di dalam Al Qur’an penyebutan kata berakal tersebar tidak kurang dalam 19 ayat, Seperti Firman Allah SWT dalam QS. Ar Ra’d ayat: 19

”Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.”

Kecerdasan Rasulullah Muhammad SAW telah nampak ketika beliau masih kecil          dan berkembang setelah beliau remaja dan dewasa menjadi seorang pemuda yang dikenal orang sekitarnya sebagai pribadi yang jujur dan baik. Sejarah mencatat, beliau tidak pernah berguru kepada manusia lainnya, bahkan diriwayatkan bahwa beliau adalah seorang yang buta huruf dan tidak pernah sekolah, sehingga kecerdasan beliau merupakan hikmah dan anugerah langsung dari Sang Pemilik Kecerdasan, Allah SWT.

Nabi Muhammad adalah seorang yang cerdas dan cerdik. Seandainya tidak demikian, niscaya tidak akan beliau dapat memimpin dan memperbaiki keadaan Bangsa Arab yang umumnya bertabiat begitu kasar, keras dan bengis, sehingga menjadi bangsa yang baik dan maju dalam kebaikan yang belum pernah ada yang menyamakannya di muka bumi ini. Para pemikir dan filusuf pun mengakui akan kecerdasan Nabi Muhammad.

hati yang sehat, kecil, Islam

Bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Nabi Muhammad merupakan manusia tercerdas yang pernah ada, mampu merubah kondisi suatu bangsa yang penuh perpecahan, dan ketertinggalan menjadi bangsa yang maju hanya dengan fasilitas yang seadanya dalam waktu kurang dari 2 dekade. Dengan kecerdasan yang dimiliki sudah pasti  Nabi Muhammad memiliki otak yang sangat brilian.

Ada miliaran sel saraf dalam otak manusia, ada miliaran partikel yang tersimpan di dalamnya. Dengan kecerdasan yang dimiliki Rasulullah, apakah hal ini dipengaruhi ritual ibadah yang sering dilaksanakannya? Apakah Ibadah yang diperintahkan Allah SWT, turut membantu meningkatkan kecerdasan? Dalam kesempatan ini akan dibahas beberapa ritual ibadah yang rutin dilaksanakan Rasulullah yang mampu meningkatkan kecerdasan.

hati yang sehat, kecil, Islam

Musik diakui meningkatkan kecerdasan pada ibu yang sedang mengandung, namun secara tidak langsung yaitu dengan efeknya yang menenangkan sehingga syaraf psikologis dan emosional sang ibu memenuhi syarat untuk menciptakan suasana dan lingkungan rahim yang kondusif untuk pembangunan dan pertumbuhan otak sang janin. Stimulan serupa juga didapati pada Al-Quran, diyakini juga bahwa Al-Quran membawa pengaruh-pengaruh positif lain yang luar biasa disebabkan sumber Al-Quran yang ilahiah, dan juga berdasarkan banyaknya kesaksian orang-orang yang merasakan pengaruh Al-Quran secara langsung. Dan ternyata, bacaan Al-Qur’an yang dibaca dengan tartil yang bagus dan sesuai dengan tajwid memiliki frekuensi dan panjang gelombang yang mampu mempengaruhi otak secara positif dan mengembalikan keseimbangan dalam tubuh. Al-Qur’an tetaplah obat dan terapi serta stimulan yang terbaik.

Penelitian medis yang pernah dilakukan terhadap 298 orang yang berpuasa di Bulan Ramadhan pernah dilakukan Muazzam dan Khaleque dan dilaporkan dalam majalah Journal of Tropical Medicine pada 1959. Juga oleh Chassain dan Hubert, yang dilaporkan dalam Journal of Physiology pada 1968 (Hashman, 2009: 143).

Otak dapat mengingat dengan baik di saat tenang dan rileks. Karena di waktu ini otak hanya menerima dan mengelola informasi yang berasal dari dalam dirinya. Di dalam Al-Quran, ada istilah an-nafsul-muthmainah (jiwa yang tenang) karena memang dalam suasana tenang orang dapat berpikir dengan baik dan memiliki kepekaan hati yang tajam.

Otak terdiri atas triliunan sel yang terhubung satu dengan lainnya. Di dalam otak, ada sel yang disebut sebagai neuroglial cells. Dengan alat functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), Rately memantau kondisi otak mereka yang berpuasa dan yang tidak. Hasilnya, orang yang shaum memiliki aktivitas motor korteks yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

Sujud yang tumakninah dan berkelanjutan dapat memacu kecerdasan. Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan sekaligus neurology dari Austria mengemukakan satu fakta yang sangat mengejutkan. Pusat-pusat saraf yang paling peka dari tubuh manusia ternyata berada di sebelah dahi, tangan, dan kaki. Dari sini ia menemui hikmah di balik wudhu yang membasuh pusat-pusat saraf tersebut. Dengan sentiasa membasuh air segar pada pusat-pusat saraf tersebut, maka berarti orang akan memelihara kesehatan dan keselarasan pusat sarafnya.  Yang paling penting dari wudhu ialah kekuatan simboliknya, yakni memberikan rasa percaya diri sebagai orang yang ‘bersih’ dan setiap waktu dapat menjalankan ketaatannya kepada Tuhan.