Kepemimpinan Nabi Muhammad Saw Periode Mekkah Dan Madinah

Para pemeluk Islam yang pertama terdiri dari orang miskin, bahkan banyak dari mereka yang berasal dari hamba sahaya. Orang-orang kafir Mekkah telah menguras tenaga untuk menganiaya, melukai dan menghukum Muhammad dan pengikutnya. Orang-orang yang hijrah diterima dengan baik dan ramah oleh raja Abyssinia, Negus.

Ibadah haji yang dilaksanakan setiap tahun adalah untuk memperingati Nabi Isma’il dan ibunya, Hajar. Di antara suku bangsa yang datang adalah suku Aus dan Khajraz dari Yatsrib.

Ibadah haji, dua bulan, Nabi

Dalam waktu dua bulan, hampir semua kaum muslimin, kurang lebih 150 orang, telah meninggalkan kota Mekkah. Hanya Ali dan Abu Bakar yang tinggal di Mekkah bersama Nabi.

Dalam perjalanan ke Yatsrib Nabi ditemani Abu Bakar. Ketika tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya lima kilometer dari Yatsrib, Nabi istirahat beberapa hari lamanya, menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi membangun masjid, masjid pertama yang dibangun Nabi. Sementara itu, penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Waktu yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Nabi memasuki Yatsrib dan penduduk kota ini mengelu-elukan kedatangan beliau dengan penuh kegembiraan.

Nabi mempersaudarakan golongan Muhajirin  dan Anshar. Di Madinah, selain orang Arab Islam, juga terdapat golongan masyarakat Yahudi dan golongan masyarakat Arab yang masih menganut agama nenek moyang mereka.

Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam menjadi semakin  bertambah kuat. Perkembangan Islam yang pesat itu membuat orang-orang Mekkah dan musuh Islam lainnya menjadi risau. Untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan gangguan dari musuh, Nabi sebagai kepala pemerintahan mengatur siasat dan membentuk pasukan tentara. Umat Islam diizinkan berperang dengan dua alasan, yaitu untuk mempertahankan diri dan melindungi hak miliknya; dan untuk menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankannya dari orang-orang yang menghalanginya.

Pada tahun 3 H, Kaum Quraisy Mekkah berangkat menuju Madinah tidak kurang dari 3.000 pasukan berkendaraan unta, 200 pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid, 700 orang di antara mereka memakai baju besi. Nabi Muhammad saw menyongsong kedatangan mereka dengan pasukan sekitar 1.000 orang. Namun, baru saja melewati batas kota, Abdullah ibn Ubay, seorang munafik dengan 300 Yahudi membelot dan kembali ke Madinah. Meskipun demikian, dengan 700 pasukan yang tertinggal, Nabi melanjutkan perjalanan. Dengan disiplin yang tinggi dan strategi perang yang jitu, pasukan yang lebih kecil itu ternyata mampu mengalahkan pasukan yang lebih besar.

Masyarakat Yahudi yang mengungsi ke Khaibar mengadakan kontak dengan Masyarakat Mekkah untuk menyusun kekuatan bersama guna menyerang Madinah, membentuk pasukan gabungan yang terdiri dari 24.000 orang tentara.  Di dalamnya juga bergabung beberapa suku Arab lain. Mereka bergerak menuju Madinah pada tahun 5 H. Atas usul Salman al-Farisi, Nabi memerintahkan Umat Islam untuk menggali parit sebagai pertahanan. Setelah tentara sekutu tiba, mereka tertahan parit itu.

Ibadah haji, dua bulan, Nabi

Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyari’atkan, Nabi memimpin sekitar seribu kaum muslimin berangkat ke Mekkah, bukan untuk berperang, melainkan untuk melakukan Ibadah Umrah. Penduduk Mekkah tidak mengizinkan mereka masuk kota. Akhirnya, diadakan perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah.

Gencatan senjata telah memberikan kesempatan kepada Nabi untuk menoleh berbagai negeri lain sambil memikirkan cara mengislamkan mereka. Salah satu cara yang ditempuh Nabi adalah mengirim utusan dan surat kepada kepala-kepala negara dan pemerintahan. Utusan yang dikirim Nabi dibunuh dengan kejam oleh raja Ghassan. Untuk membalas perlakuan ini, Nabi mengirim pasukan perang sebanyak tiga ribu orang. Namun, Pasukan Islam atas komando Khalid ibn Walid (sudah masuk Islam) menarik diri dan kembali ke Madinah. Pasalnya adalah tentara Ghassan mendapat bantuan dari Romawi, sehingga memiliki kekuatan tentara ratusan ribu orang.

Ibadah haji, dua bulan, Nabi

Meskipun Mekkah telah dikalahkan, namun masih ada dua suku Arab yang masih menentang, yaitu Bani Tsaqif di Thaif dan Bani Hawazin di antara Thaif dan Mekkah, berkomplot ingin memerangi Islam karena telah menghancurkan berhala-berhala mereka di sekitar Ka’bah. Untuk ini Nabi mengerahkan kira-kira 12.000 pasukan dan memimpin langsung menuju Hunain untuk menghadapi mereka.